Kuliah Online Lebih Fleksibel Dan Efektif, Tapi Kendala Infrastuktur

aptisi.or.id, Tangerang – Saat ini, keadaan sudah tidak sama lagi. Kita dituntut untuk melakukan cara baru dan meninggalkan cara lama untuk tetap bertahan dalam situasi yang rumit. Dampak dari Pandemi Covid-19 memaksa kita untuk terus mencari cara agar bisa terus berinovasi agar tidak terhenti begitu saja.

Dunia pendidikan saat ini juga termasuk paling berdampak. Kelangsungan pendidikan generasi muda penerus bangsa terpaksa harus mengalami kendala. Banyak dari Instansi pendidikan baik itu sekolah formal, sekolah kedinasan ataupun perguruan tinggi.

Telah dilakukan cara paling efektif yaitu dengan melaksanakan pembelajaran jarak jauh atau daring. Para akademisi menilai hal ini sangat fleksibel daripada tatap muka. Namun yang menjadi kendala adalah kurangnya Infrastruktur pendukung.

Sebagai Ketua Program Studi Manajemen Universitas Surabaya (UBAYA), Deddy Marciano mengatakan bahwa pandemi corona memaksa perguruan tinggi menerapkan perkuliahan secara online. Setelah dijalani, ia menilai metode belajar ini memiliki beberapa keunggulan.

Salah satunya biaya pembelajaran online dinilai lebih terjangkau dibandingkan dengan tatap muka secara langsung. Karena selain pertimbangan dana, juga dari segi manajemen waktu yang lebih fleksibel.

Dalam Seminar Daring Business Leadership Series #4 yang digelar Magister Manajemen Universitas Gadjah Mada (UGM), beliau mengatakan “Materi yang diajarkan juga lebih personal. Tapi Infrastruktur tidak memadai”. Infrastruktur yang dimaksud baik itu digital maupun perlengkapan pendukung lainnya.

Diambil dari web katadata.co.id, Berdasarkan data indeks internet inklusif (Inclusive Internet Index) dari Economist Intelligence Unit, cakupan pengguna Internet Indonesia sebenarnya cukup luas. Sektor rumah tangga pengguna internet Indonesia mencapai 66,2%. Angka tersebut melebihi rata-rata negara di Asia yang mencapai 59,7%.

Dari 267 juta penduduk Indonesia, 93%-nya sudah tercakup layanan 4G. Namun, dengan cakupan internet yang begitu luas, kecepatan internet di Indonesia dianggap jauh dibawah rata-rata negara Asia. Rata-rata kecepatan unduhan seluler di Indonesia hanya 14,4 Kbps, di bawah rata-rata rata Asia 30,9 Kbps. Rata-rata kecepatan mengunggah data di Indonesia pun 10,9 Kbps, juga di bahwa rata-rata Asia 12,9 Kbps.

Selain beberapa kendala diatas, ada kendala lain yang juga menjadi faktor kekurangannya. Yaitu softskill dan technical skill yang sulit untuk diajarkan. Mahasiswa juga dituntut harus bisa belajar dan memiliki kesadaran untuk berkembang dengan teknologi yang ada.

Meskipun demikian, kampus dituntut untuk tetap mengikuti pelajaran sesuai dengan kurikulum nasional dan menyiapkan materi pembelajara yang menarik.

Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) juga mengajak para rektor untuk memfasilitasi mahasiswa agar bisa belajar kepada siapa pun. Yang dimaksud yakni pelaku industri, wirausahawan, praktisi pemerintahan, hukum, dan pelaku kerja lapangan lainnya.  Tujuannya, agar mahasiswa bisa menangkap perubahan industri yang dipicu oleh disrupsi dan hiperkompetisi. “Banyak karakter kerja tak bisa ditangkap hanya melalui membaca, tetapi harus melalui pengalaman nyata. Itulah pentingnya memerdekakan mahasiswa agar bisa belajar ke siapa saja,” ujar Jokowi.

About Kartika Trissanti 86 Articles
A Head Full of Dreams

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*